Proyek Kereta Maglev Jepang Molor Pemangku Kepentingan Tuntut Kejelasan
Proyek kereta maglev Chuo Shinkansen di Jepang mengalami penundaan lama. Pemerintah dan pelaku bisnis kini menuntut kejelasan linimasa pembangunan.
Kereta cepat maglev Jepang sedang melaju dalam uji coba lintasan dengan kecepatan tinggi
Kendala Lingkungan Hambat Jalur Utama
Pembangunan Kereta Maglev ini sudah dimulai sejak tahun 2014. Namun proyek ambisius ini terhambat konflik lingkungan di Prefektur Shizuoka. Pemerintah daerah khawatir pembangunan terowongan mengganggu aliran Sungai Oi.
Gubernur Shizuoka Yasutomo Suzuki akhirnya memberikan izin konstruksi baru-baru ini. Keputusan keluar setelah JR Central menyetujui sejumlah syarat perlindungan lingkungan. Langkah ini menjadi titik terang setelah negosiasi buntu selama bertahun-tahun.
Target Operasional Mundur ke 2030
JR Central semula menargetkan rute Tokyo menuju Nagoya beroperasi pada tahun 2027. Target tersebut kini resmi batal akibat rentetan masalah di lapangan. Estimasi terbaru menunjukkan jalur ini baru bisa beroperasi pada pertengahan tahun 2030.
Penundaan ini mengacaukan rencana tata kota di sepanjang jalur kereta. Banyak pemerintah daerah telanjur berinvestasi pada proyek pembangunan ulang kawasan. Mereka berharap kehadiran maglev bisa mendongkrak sektor pariwisata ekonomi lokal.
Biaya Membengkak dan Tekanan Investor
Mundurnya jadwal proyek otomatis membuat biaya konstruksi membengkak sangat besar. Kondisi ini memberikan tekanan finansial tambahan bagi manajemen JR Central. Pengamat industri meminta perusahaan segera merilis linimasa baru yang realistis.
Langkah transparansi sangat penting demi mengembalikan kepercayaan para investor. Kereta berbasis teknologi maglev magnetik ini dirancang mampu melaju hingga 500 km/jam. Teknologi tersebut memotong waktu tempuh Tokyo ke Nagoya menjadi 40 menit saja.