Pelayaran Teluk Lumpuh Total Usai Klaim Rudal Houthi
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb anjlok drastis setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang kapal tanker minyak Saudi.
Anjloknya Lalu Lintas Kapal
Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan drastis jumlah kapal yang melintasi jalur vital tersebut. Hanya dua kapal yang melintasi selat hormuz pada hari Rabu dari sebelumnya 8 kapal.
Kondisi serupa terjadi di Selat bab el-mandeb yang hanya mencatat satu kapal melintas. Angka ini merosot tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 20 kapal.
Penurunan aktivitas ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Pelaku industri terus memantau situasi keamanan di perairan strategis tersebut.
Klaim Serangan Rudal Houthi
Kelompok houthi di Yaman sebelumnya mengumumkan keberhasilan serangan militer mereka. Juru bicara kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka menargetkan kapal tanker minyak saudi bernama "Wafaa".
Serangan itu menggunakan beberapa rudal balistik di utara Laut Merah. Kapal berbendera Saudi tersebut dilapurkan telah mematikan sinyal pelacakan sejak tanggal 19 Juli lalu.
Analis maritim menduga kapal tersebut sempat berbalik arah ke utara sebelum akhirnya menjadi sasaran rudal. Lokasi serangan berada ratusan kilometer dari zona blokade yang sempat diumumkan sebelumnya.
Respons Pasar dan Diplomasi
Perusahaan keamanan maritim menilai situasi ancaman saat ini sebagai yang terburuk. Eskalasi konflik di Teluk dan Laut Merah telah menciptakan tingkat bahaya tertinggi bagi pelayaran komersial.
Di sisi lain, pasar minyak menunjukkan sedikit optimisme di tengah ketegangan yang terjadi. Iran dan Oman dikabarkan hampir mencapai kesepakatan terkait pengelolaan bersama selat hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa perundingan tersebut berada di tahap akhir. Kesepakatan ini diharapkan mampu memulihkan kembali arus pasokan minyak dan gas.