China Cari Kontrak LNG Jangka Panjang Hindari Selat Hormuz
Importir gas raksasa asal China berburu pasokan LNG jangka panjang baru untuk mengurangi ketergantungan dari wilayah Teluk Persia.
Kapal tanker pengangkut gas alam cair LNG sedang berlayar di laut lepas
Pasokan dari Qatar Merosot Tajam
China merupakan konsumen LNG terbesar dari Qatar dan mengandalkan hampir 30% pasokan dari negara Teluk tersebut pada tahun lalu. Namun konflik Timur Tengah yang memanas memicu penutupan Selat Hormuz dan merusak berbagai fasilitas produksi gas di Qatar. Dampaknya, volume impor gas China dari wilayah tersebut langsung anjlok drastis.
Data pelacakan kapal menunjukkan China hanya mengimpor sekitar 100.000 ton LNG dari Qatar pada kuartal kedua tahun ini. Angka tersebut turun sangat tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,7 juta ton. Beberapa proyek ekspansi gas di Qatar bahkan harus tertunda akibat perang yang berkecamuk.
Buru Kontrak Baru Sebelum 2030
Pemerintah China memastikan tidak akan membatalkan kontrak mengikat yang sudah berjalan dengan pihak Qatar. Meski begitu, Beijing terus mencari opsi alternatif untuk memangkas risiko ketergantungan Energi dari kawasan Teluk. Langkah mitigasi ini menjadi prioritas utama badan usaha milik negara China.
Sejumlah raksasa Energi China seperti PetroChina dan Sinopec kini gencar mendekati para eksportir global lain. Mereka mengincar kesepakatan baru untuk jangka waktu minimal 10 tahun yang akan dimulai sebelum tahun 2030. Strategi ini diharapkan mampu mengamankan pasokan Energi domestik China dalam jangka panjang.
Kanada Jadi Pilihan Alternatif Utama
Kanada muncul sebagai salah satu kandidat kuat penyuplai gas baru bagi negara tirai bambu tersebut. Negara di Amerika Utara ini memang sedang berambisi menggenjot ekspor Energi mereka ke pasar Asia. Kanada juga ingin mengurangi ketergantungan perdagangan Energi yang terlalu besar dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, China menghadapi dilema besar dalam menentukan mitra impor gas baru di luar jalur Selat Hormuz. Mereka cenderung menghindari ketergantungan pada pasokan LNG dari Amerika Serikat. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tarif di bawah Presiden Donald Trump menjadi pemicu utama kehati-hatian China.