Legenda Spanyol Joan Capdevila Dilarang Masuk AS Jelang Final
Joan Capdevila gagal menghadiri final Piala Dunia 2026 di New York setelah otoritas Amerika Serikat menolak dokumen perjalanan ESTA miliknya.
Mantan bek kiri timnas Spanyol Joan Capdevila yang dilarang masuk ke Amerika Serikat menjelang final Piala Dunia 2026
Capdevila Minta Tolong Donald Trump
Joan Capdevila awalnya berencana menonton pertandingan pamungkas tersebut bersama anak-anaknya di stadion. Dia juga dijadwalkan berkumpul dengan rekan-rekan seangkatannya saat menjuarai Piala Dunia 2010 seperti Sergio Ramos, Xavi, Andres Iniesta, dan Carles Puyol.
Pria berusia 48 tahun itu mendadak tertahan dan tidak memiliki solusi operasional untuk terbang ke Amerika Serikat. Capdevila akhirnya nekat memention akun media sosial X milik Presiden AS Donald Trump untuk meminta bantuan darurat.
Capdevila menulis pesan terbuka melalui akun pribadinya, "Jaa saya butuh bantuan!". Dia mengaku tidak percaya akses masuknya ke wilayah AS ditutup jelang momen besar bersama keluarganya.
Penyebab Penolakan Terkait Laga Iran
Capdevila mengungkapkan alasan penolakan tersebut saat berbicara dalam program siaran radio Spanyol El Partidazo de COPE. Keputusan tegas dari otoritas keamanan AS ternyata berkaitan dengan riwayat perjalanannya di masa lalu.
Capdevila menjelaskan, "ESTA saya ditolak karena saya pernah memainkan sebuah pertandingan di Iran sepuluh tahun yang lalu." Aturan ketat AS memang membatasi fasilitas bebas visa bagi pelancong yang pernah mengunjungi negara tersebut.
Petugas imigrasi memberi tahu bahwa siapa pun yang pernah ke Iran harus mengajukan visa reguler khusus. Prosedur pembuatan visa ini membutuhkan waktu lebih lama dan tidak bisa selesai dalam hitungan jam.
Bukan Kasus Pertama di Piala Dunia
Capdevila kini berpacu dengan waktu untuk mencari jalur alternatif hukum agar tetap bisa berangkat ke New York. Peluang mantan pemain Villarreal ini terhitung tipis mengingat laga final akan berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
Kasus penolakan dokumen imigrasi pelatih maupun mantan atlet internasional bukan pertama kalinya terjadi sepanjang turnamen ini. Kebijakan ketat perbatasan Amerika Serikat terus memicu perdebatan di kalangan pencinta sepak bola dunia.