Jejak Perjalanan Didier Deschamps Selama 14 Tahun Latih Timnas Prancis
Didier Deschamps bersiap meninggalkan posisi pelatih Timnas Prancis setelah 14 tahun menjabat dengan torehan prestasi besar dan berbagai kritik tajam.
Didier Deschamps memberikan instruksi kepada pemain Timnas Prancis di pinggir lapangan
Momen Krusial Penyelamat Karier
Perjalanan Deschamps tidak selalu mulus pada awal masa jabatannya. Prancis hampir gagal melaju ke Piala Dunia 2014 setelah kalah 0-2 dari Ukraina pada laga leg pertama babak playoff di Kiev. Namun, armada Deschamps mampu bangkit dan membalikkan keadaan dengan kemenangan 3-0 pada leg kedua di Stade de France.
Laga dramatis tersebut menjadi pondasi penting bagi masa depan les bleus di bawah asuhannya. Deschamps mengakui bahwa masa depannya bisa saja berakhir lebih cepat jika pertandingan tersebut gagal dimenangi. Setelah lolos, Prancis melaju hingga perempat final di Brasil sebelum dihentikan oleh Jerman.
Gelar Juara Dunia dan Strategi Pragmatis
Prancis menunjukkan kemajuan pesat saat menjadi tuan rumah Euro 2016 walau harus kalah tragis dari Portugal di partai final. Kekecewaan tersebut langsung dibayar tuntas dua tahun kemudian pada ajang Piala Dunia 2018 di Rusia. Deschamps sukses membawa trofi paling bergengsi tersebut kembali ke Prancis.
Deschamps menerapkan formasi taktis 4-2-3-1 yang sangat pragmatis dengan menempatkan Blaise Matuidi sebagai penyerang sayap kiri. Strategi ini terbukti jitu dan mengubah Prancis menjadi mesin pemenang yang solid. Keberhasilan ini membuat Deschamps meraih bintang kedua untuk negaranya setelah sempat memenanginya sebagai kapten pada tahun 1998.
Kritik Tajam Menjelang Akhir Era
Nostalgia kesuksesan mulai pudar saat Prancis tampil mengecewakan pada Euro 2021 dan Euro 2024. Gaya bermain les bleus kerap dikritik media Eropa karena dianggap terlalu membosankan dan tidak produktif dalam mencetak gol. Kendati demikian, Deschamps tetap mampu mencatatkan rekor sejarah dengan melampaui 100 kemenangan bersama tim nasional.
Deschamps mencoba mengubah strategi menjadi lebih ofensif pada piala dunia 2026 dengan mengandalkan trio lini serang baru. Langkah berani ini sayangnya harus terhenti setelah kalah 0-2 dari Spanyol pada babak semifinal awal pekan ini. Kritikus menilai sang pelatih terlalu lama bertahan sehingga momentum terbaik tim sudah habis.