18 July 2026 Industri

Irak Tutup Lapangan Gas Khor Mor karena Ancaman Keamanan

Perusahaan Dana Gas menghentikan operasional lapangan gas Khor Mor di Irak akibat ancaman keamanan. Penutupan ini memicu krisis pasokan listrik di Kurdistan.

Fasilitas produksi lapangan gas Khor Mor di wilayah Kurdistan Irak Timur

Fasilitas produksi lapangan gas Khor Mor di wilayah Kurdistan Irak Timur

Perusahaan asal Uni Emirat Arab menghentikan seluruh operasional fasilitas produksi di lapangan gas , Irak. Keputusan darurat ini menyusul adanya ancaman keamanan yang kredibel di wilayah tersebut. Pihak manajemen mengambil langkah ini setelah berkoordinasi dengan pemerintah pusat Irak dan otoritas regional .

Ancaman Keamanan Terhadap Objek Vital

memilih opsi penutupan untuk melindungi para pekerja dan infrastruktur dari serangan susulan. sebelumnya berulang kali menghadapi tantangan keamanan serius. Kelompok bersenjata setempat sering meluncurkan serangan roket dan pesawat tanpa awak ke area kilang.

Pihak operator memastikan kondisi pabrik saat ini tetap dalam status siaga operasional. Manajemen berjanji akan mengaktifkan kembali fasilitas produksi dengan cepat setelah situasi keamanan membaik. Pemerintah federal kini memperketat penjagaan di sekitar lokasi untuk mencegah kerusakan infrastruktur vital.

Dampak Pemadaman Listrik Massal

Penutupan mendadak ini langsung memukul sektor kelistrikan di wilayah semi-otonom . Lapangan merupakan aset energi paling krusial yang memasok 80% kebutuhan pembangkit listrik di sana. Penghentian pasokan gas ini memotong kapasitas produksi listrik regional hingga 3.000 megawatt.

Masyarakat kini hanya bisa menikmati aliran listrik selama beberapa jam saja dalam sehari. Otoritas setempat terpaksa melakukan pemadaman bergilir untuk menghemat daya yang tersisa. Krisis energi ini dikhawatirkan dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi warga dan fasilitas publik.

Cadangan Gas Terbesar di Irak

Lapangan gas menyimpan estimasi cadangan hingga 8,2 triliun kaki kubik gas alam. mengoperasikan ladang ini melalui konsorsium dan Crescent Petroleum dengan saham masing-masing 35%. Sisa saham sebesar 30% terbagi rata antara perusahaan OMV AG asal Austria, MOL Group dari Hungaria, dan DNO.

Proyek ekspansi senilai Rp16,5 triliun sebelumnya berhasil mendongkrak kapasitas produksi pabrik sebesar 50%. Fasilitas ini mampu menghasilkan 750 juta standar kaki kubik gas per hari. Pemerintah pusat awalnya membidik surplus gas dari tempat ini untuk mengurangi ketergantungan impor gas mahal dari Iran.

Rasya Azurra
Rasya Azurra
Jurnalis otomotif dan olahraga dengan pengalaman lebih dari 6 tahun meliput dunia balap, mobil sport, dan perkembangan industri otomotif global. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.