Dominasi Mineral Kritis China Ancam Industri Global Rp104 Kuadriliun
Laporan IEA menyebut dominasi mineral kritis China mengancam produksi industri hilir global senilai Rp104 kuadriliun per tahun jika ekspor dihentikan.
Pekerja memeriksa fasilitas pengolahan komponen mineral kritis untuk industri teknologi otomotif
Ancaman Besar Sektor Hilir Dunia
Pemerintah China memperketat kendali ekspor komoditas logam tanah jarang sejak tahun lalu. Implementasi penuh pembatasan ini membahayakan produksi hilir di luar China hingga Rp104 kuadriliun atau USD 6,5 triliun per tahun.
Sektor manufaktur otomotif, teknologi tinggi, pertahanan, dan energi menjadi lini bisnis yang paling rentan. IEA menyampaikan data tersebut dalam laporan tahunan Global Critical Minerals Outlook 2026.
Gangguan pasokan ini juga mengancam rantai produksi baterai kendaraan listrik global. Penghentian perdagangan grafit tingkat baterai memicu risiko kerugian industri hilir sebesar Rp4.800 triliun per tahun.
Rapuhnya Rantai Pasok Global
Volume perdagangan Mineral Kritis sebenarnya relatif kecil namun menopang nilai Ekonomi Global yang sangat masif. Ketergantungan yang tinggi pada satu negara membuat pasokan dunia berada dalam posisi rapuh.
China saat ini masih memimpin aktivitas penambangan sekaligus pemurnian sebagian besar logam utama. Konsentrasi pasar yang tinggi ini memicu kekhawatiran geopolitik di kalangan pelaku industri barat.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol berkata, "Analisis kami menunjukkan nilai ekonomi yang besar bergantung pada volume mineral yang relatif kecil." Dia menambahkan bahwa konsentrasi Rantai Pasok ini sangat rentan gangguan.
Langkah Diversifikasi Negara Barat
Sejumlah negara mulai meluncurkan kebijakan insentif untuk membangun Rantai Pasok di luar China. Proyek investasi baru logam tanah jarang kini mulai menunjukkan perkembangan positif di beberapa kawasan.
Upaya diversifikasi ini membutuhkan biaya operasional dan modal yang jauh lebih tinggi. Namun langkah ini dinilai penting sebagai premi keamanan mineral pada masa ketidakpastian geopolitik.
Fatih Birol menegaskan, "Diversifikasi pasokan bisa dianggap sebagai bentuk asuransi ekonomi terhadap risiko gangguan pasokan utama."